MANUSIA
ADALAH TEKNOLOGI TERCANGGIH
Pertanyaan yang menggoda adalah, mengapa Martina Hingis bisa
menjadi juara dunia di usia 17 tahun, Husain Tabataba’i mendapat gelar
doktor honoris causa bahkan diusia 7 tahun, atau (untuk menghibur diri
) seorang anak Indonesia Fajar Ardian meraih medali emas ollimpiade
fisika internasional di Athena pada usia 17 tahun. Kita juga kenal
Michael Jirdan dengan prestasi bola basketnya yang luar bias. Atau sang
juara tujuh kali tour France Lace Amstrong,dll. Apakah mereka punya
bahan dasar penciptaan sebagai “manusia unggul” yang berbeda dengan
kita?? tentu kita sepakat, siapapun dan hebatnya mreka, hakikatnya semua
sama. Bahwa mereka adalah manusia seperti halnya kita. Namun, mengapa
kita tidak bisa seperti mereka?? menghasilkan karya yang terbaik dalam
hiduplam ini??
Jika kita menganalisis, mungkin kita temukan beberapa penyebab dari masalah tersebut. Salah satunya adalah karena kita belum terlatih untuk mengenal diri, potensi dan merencanakan masa depan dengan cermat. Sedang mereka telah tetbiasa merencanakan hidup, menyusun target terukur dan melangkah dengan terencana barupa usaha untuk mencapai tjuan yang diinginkan. Rencana dan tjuan masa depan yang disertai langkah yang sistematis untk mencapainya telah melahirkan orang2 yang berprestasi di dalamnya. Sebaliknya, hidup tanpa rencana, tidak memahami visi dan misi hidup serta mematikan potensi kesempurnaan manusia telah menyebabkan jutaan pengangguran. Sehingga tidal ada kata yang pantas untuk kita lakukan saat ini untuk memperbaiki masa depan kita selain : mengenal dan mengoptimalkan karunia Tuhan tanpa batas dalam diri kita.
Sang Pencipta telah memberikan kita potensi yang luar biasa. Saatnya kita mengelolah apa yang di anugerahkan sebagai wujud tanda syukur. Coba bayangkan, ketika manusia lahir saja sudah membekali dengan 1 triliun lebih sel otak, dan menurut penelitian yang ada, seseorang menguasai aktif 32 bahasa, “tidak menghabiskan” 1 sel otak. Lantas, bagaimana dengan kita??? Berapa banyak potensi kita yang nganggur tak terolah?? Belum lagi potensi2 lain yang telah Tuhan anugerahkan telah built-in dalam diri kita. Jadi, tidak ada beda antara diri kita dengan siapapun yang mungkin telah menghasillkan karya yang terbaik dalam hidupnya. Setiap kita memiliki bahan baku yang sama. Hanya perbedaannya adalah, “KITA BELUM MENGHIDUPKAN & MENGOPTIMALKAN POTENSI TERSIMPAN DALAM DIRI KITA”.
http://www.gunadarma.ac.id/
Jika kita menganalisis, mungkin kita temukan beberapa penyebab dari masalah tersebut. Salah satunya adalah karena kita belum terlatih untuk mengenal diri, potensi dan merencanakan masa depan dengan cermat. Sedang mereka telah tetbiasa merencanakan hidup, menyusun target terukur dan melangkah dengan terencana barupa usaha untuk mencapai tjuan yang diinginkan. Rencana dan tjuan masa depan yang disertai langkah yang sistematis untk mencapainya telah melahirkan orang2 yang berprestasi di dalamnya. Sebaliknya, hidup tanpa rencana, tidak memahami visi dan misi hidup serta mematikan potensi kesempurnaan manusia telah menyebabkan jutaan pengangguran. Sehingga tidal ada kata yang pantas untuk kita lakukan saat ini untuk memperbaiki masa depan kita selain : mengenal dan mengoptimalkan karunia Tuhan tanpa batas dalam diri kita.
Sang Pencipta telah memberikan kita potensi yang luar biasa. Saatnya kita mengelolah apa yang di anugerahkan sebagai wujud tanda syukur. Coba bayangkan, ketika manusia lahir saja sudah membekali dengan 1 triliun lebih sel otak, dan menurut penelitian yang ada, seseorang menguasai aktif 32 bahasa, “tidak menghabiskan” 1 sel otak. Lantas, bagaimana dengan kita??? Berapa banyak potensi kita yang nganggur tak terolah?? Belum lagi potensi2 lain yang telah Tuhan anugerahkan telah built-in dalam diri kita. Jadi, tidak ada beda antara diri kita dengan siapapun yang mungkin telah menghasillkan karya yang terbaik dalam hidupnya. Setiap kita memiliki bahan baku yang sama. Hanya perbedaannya adalah, “KITA BELUM MENGHIDUPKAN & MENGOPTIMALKAN POTENSI TERSIMPAN DALAM DIRI KITA”.
http://www.gunadarma.ac.id/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar